Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah SMA N 1 Jakarta (Boedoet7)

Tahun 1889 Gedung Budi Utomo No.7 diperkirakan sudah didirikan dan pertama kali dipakai oleh PHS (Prins Hendrick School). Pada masa pendudukan Jepang gedung ini dipakai sebagai salah satu perbekalan logistik markas tentaranya. Sebelum tahun 1945 di Jakarta sudah beridiri SMT (Sekolah Menengah Tinggi), yang menempati gedung Kanisius. Dan sekolah ini ternyata merupakan embrio dari SMA 1 yang sekarang. SMT dibubarkan setelah Jepang menyerah.

Tahun 1946 , tepatnya tanggal 13 Maret 1946 dibentuk sekolah Pemerintah yang pertama, yang mula-mula masih menggunakan nama SMT, lalu diubah menjadi SMOA (Sekolah Menengah Omoem Atas) yang menempati gedung PSKD di jalan diponegoro. SMOA kemudian diganti menjadi SMA yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan SMA RI atau SMA Kiblik dengan Direkturnya: Bapak Drs. Adam Bachtiar.

Tahun 1947, dengan adanya Agresi Belanda, sekolah tersebut dibubarkan/dilarang, akan tetapi guru-guru serta pelajarnya tidak menyerah oleh ancaman penjajah Belanda. Kegiatan belajar mengajar dilanjutkan dengan menggunakan tempat-tempat antara lain : Rumah Bapak Adam Bachtiar di jalan Gondangdia Lama No.22, rumah Bapak Wagendorf di jalan Sawo No.12, dan di beberapa tempat rumah orang tua murid antara lain rumah Ny. Dr. Susilo di jalan Proklamasi No.69. karena mengalami keadaan demikian SMA RI terkenal juga dengan sebutan SMA Pejuang. Guru-guru yang dengan sukarela dan penuh dedikasi pada saat itu antara lain: Bapak R. Soetedja, Bapak Adam Bachtiar, Bapak Wagendorf, Bapak Syarif Tayeb, Bapak Soebroto dan Bapak Djamaloes. Sementara diantara pelajarnya antara lain adalah Bapak Mochtar Kusumaatmaja. Hal tersebut berlangsung sampai penyerahan kedaulatan kepada Pemerintah Republik Indonesia dari pihak Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Pada awal tahun 1950 SMA Kiblik tersebut bergabung kembali tempat belajarnya dan menempati gedung di Jalan Budi Utomo No.7 sampai sekarang. Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, gedung di Jalan Budi Utomo ditempati oleh MTD (Militer Transport divisi). Juga pengurus besar PGRI pernah menempati gedung ini. SMA Kiblik dianti menjadi SMA 1 -A dan SMA 1-B dengan direkturnya Bapak Wagendorp. Tahun 1951 Bapak Wagendorp mendapat tugas dari pemerintah RI Inggris. Pimpinan SMA Negeri 1 -A dan SMA 1-B dipegang oleh Bapak R. Soetedja.

Kemudian berikut ini urutan pergantian nama SMA 1-A dan SMA 1-B hingga bernama SMA Negeri 1 kini :

- Tahun 1958 menjadi SMA 1-A dan SMA 1-B.
- Pada tahun tersebut SMA 1-A dipimpin oleh Bapak Supardo SH selama 6 bulan
- Tahun 1962 menjadi SMA 1 ABC.
- Tahun 1962-1964 Direkturnya adalah Bapak Ong Pok Kiat.
- Tahun 1964-1967 Direktur adalah Bapak H. Drs. Gazali Dunia.
- Tahun 1964 nama SMA 1 ABC diganti menjadi SMA Negeri 1.
R. Djamaloes 1967 - 1974
Pada masa itu ruang belajar yang semula tertutup menjadi terbuka. Perubahan-perubahan waktu itu antara lain:Membuka Laboratorium Kimia, lapangan basket dan penambahan gedung baru sebanyak 18 lokal (gedung tingkat tiga di bagian belakang).
Akhir tahun 1974 sampai pertengahan tahun 1980 Direkturnya adalah Bapak Drs. Joelioes Joesoef. Dan pada masa jabatannya juga banyak perubahan-perubahan antara lain: lapangan upacara diperluas, pembukaan perpustakaan, pembaharuan aula yang dilengkapi dengan laboratorium Fisika dan Biologi, peresmian Pramuka Gugus Depan 481-482. dan yang penting lagi yaitu sejak tahun 1978 gedung jalan Budi Utomo No.7 hanya digunakan oleh SMA 1, karena SMA V dipindahkan ke Sumur Batu.

Sejak bulan Mei 1980 jabatan Direktur SMA 1 dipegang oleh Bapak J. Ch. Lesilolo. Berikutnya Bapak N.T. Padidi memegang jabatan sebagai Direktur SMA 1 sejak Mei 1981 sampai dengan 1987. Kemudian beliau digantikan oleh Bapak E. Pakpahan. Namun beliau hanya sempat menangani SMA 1 sampai tahun 1988 karena beliau meninggal dunia. Lalu Bapak T.H. Simbolon sementara menggantikan kedudukan Kepala Sekolah di SMA 1 ini. Sampai akhir tahun 1988 yang kemudian Bapak Djoko Sudibyo datang untuk memegang kendali SMA 1. Tahun 1989 sampai tahun 1992 diganti menjadi Bapak Asrul Chatib. Setelah itu Bapak M. Yunan Abdoellah yang memegang kendali Kepala Sekolah SMA 1 sampai tahun 1994. Dan tahun 1995 sampai tahun 1996 digantikan oleh Bapak Soedarno SW.Pada tahun 1997 sampai tahun 2001 nama SMA 1 berubah menjadi SMUN 1 dan saat itu Kepala Sekolah dipegang oleh Bapak Arifin Rusmana.

Tahun 2001 Kepala Sekolah SMUN 1 dipegang oleh Bapak Triyana sampai 2004, yang mulai mengembangkan sekolah Berbasis Kompetensi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) sebagai pilihan kompetensi.         Laboratorium Internet dengan 41 unit PC dibangun, dan Laboratorium Komputer dengan 41 unit PC juga dibangun. Koneksi jaringan Internet memakai Broadband ADSL 512 KBps dipakai sebagai sarana belajar siswa dan guru. Modul belajar komputer dan multimedia dikembangkan sendiri sesuai kebutuhan. Bapak Triyana juga meresmikan berdirinya climbing wall dengan lebar 4,5 meter dan tinggi 17 meter, yang merupakan Climbing wall tertinggi yang dimiliki institusi pendidikan di Jakarta.
Kemudian tahun 2004 digantikan oleh Bapak Ratiyono, yang melanjutkan program TIK dengan membangun Laboratorium Komputer khusus buat guru-guru, dan membangun kamera pengintai (CCTV) sebagai sarana pemantauan siswa dilingkungan sekolah. Tahun ajaran baru 2004-2005, nama SMUN 1 dirubah lagi menjadi SMAN 1 .
Pada tahun 2005 Bapak Ratiyono digantikan oleh Bapat Hermanto yang juga melanjutkan program TIK, mengembangkan kamera pengintai lebih banyak lagi dan menyediakan sarana HOTSPOT Wireless Acces Point dilingkungan SMA 1, menambah koneksi Internet Broadband menjadi 2 x 1 MB. Pada masa ini, peran serta Alumni melalui IKABOEDOET dalam mendukung kebutuhan sarana dan prasarana  almamater SMA Negeri 1 Jakarta  berhasil diwujudkan dengan dibangunnya Perpustakaan yang diikuti dengan sumbangan buku2 dan computer. Kemudian dimulainya renovasi kelas gedung lama yang dikembangkan menjadi kelas dengan perangkat multimedia (notebook, projector dan pendingin ruangan)  beserta bangku+meja kelas yang baik dan nyaman untuk siswa belajar.
Tahun 2008, Kepala SMA Negeri 1 Jakarta dijabat oleh Bapak Agus Salisin yamg menerima hasil renovasi IKABOEDOET  yang secara simbolis diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta melalui Gubernurnya Bapak Fauzi Bowo.  Kemudian pengembangan sarana yang ada agar dapat mencukupi kebutuhan kegiatan ajar mengajar diteruskan, seperti menambah luas area HOTSPOT ke seluruh wilayah sekolah, menambah Bandwidth Internet menjadi 3 MB, renovasi Aula, ruang belajar gedung belakang dan ruang guru.
Pada awal tahun pelajaran 2007/2008 SMA Negeri 1 Jakarta menjadi Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (SKM) yaitu sekolah yang dipersiapkan untuk menjadi sekolah Mandiri atau Sekolah Bertaraf Internasional pada tahun 2010. Sekolah Mandiri dalam pembelajaran menerapkan Sistem kredit semester (SKS)  yaitu sistem yang memberi peluang peserta didik mengambil program pendidikan yang sesuai dengan potensi dan minatnya. Kecepatan belajar yang merupakan potensi peserta didik sangat diperhatikan dengan sistem kredit semester. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar yang tinggi dapat menyelesaikan program pembelajaran lebih cepat dibandingkan dengan peserta didik dengan kecepatan beleajar yang normal. Jadi manfaat penerapan sistem kredit  semester pada sekolah formal mandiri  adalah diperhatikannya kecepatan belajar peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran dan penentuan mata pelajaran yang dipilih serta beban belajarnya, sehingga bagi peserta didik yang mampu dapat meneyelesaikan program pembelajaran lebih cepat..

Contact Us

Phone Number : +6221 386 5001
Fax Number : +6221 352 4489
Email : humassman1jkt@yahoo.com
Address : Jl. Budi Utomo No. 07 Jakarta Pusat 10710

sumber : http://mail.sman1jkt.com/sman1jkt/index.php?option=com_content&view=article&id=64:sejarah-sman-1-jakarta&catid=2:komite-sman-1&Itemid=2


Read Users' Comments ( 1 )

SMA Negeri 1 Jakarta

SMA Negeri 1 Jakarta - BOEDOET



Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Jakarta atau dikenal juga dengan nama Boedoet 7 yang berada di bilangan Sawah Besar, Jakarta Pusat

Sejarah

SMA Negeri 1 Jakarta menempati gedung di Jl. Budi Utomo No. 7 yang diperkirakan sudah didirikan sejak tahun 1889 yang pada waktu itu dipakai oleh PHS (Prins Hendrick School). Sebelum tahun 1945 di Jakarta sudah berdiri Sekolah Menengah Tinggi (SMT) yang menempati gedung Kanisius di Jl. Cikini Raya. Sekolah inilah yang merupakan embrio dari SMAN 1 Jakarta. Tanggal 13 Maret 1946 di bentuk sekolah Pemerintah yang pertama, yang mula-mula masih menggunakan nama SMT, lalu di ubah menjadi SMOA (Sekolah Menengah Oemoem Atas) yang menempati gedung PSKD di Jl. Diponogoro. SMOA kemudian berganti nama menjadi SMA yang pada waktu itu dikenal dengan sebutan SMA RI atau SMA Kiblik, Tahun 1947 akibat adanya Agresi Belanda sekolah ini dibubarkan, akan tetapi kegiatan belajar mengajar di lanjutkan di rumah-rumah para guru, antara lain di rumah Bapak Adam Bachtiar (Direktur) di Jl. Gondangdia Lama No. 22, rumah Bapak Wagendorp di Jl. Sawo No. 12 dan juga di rumah Ny. Dr. Susilo di Jl. Proklamasi No. 12. Keadaan ini terus berlangsung sampai penyerahan kedaulatan kepada Pemerintah Republik Indonesia dari pihak Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1947 Pada awal tahun 1950 SMA Kiblik tersebut bergabung kembali tempat belajarnya dengan menempati gedung di Jl. Budi Utomo No. 7 sampai sekarang, Tercatat beberapa kali perubahan nama dari SMA Kiblik sebelum berubah menjadi SMAN 1 Jakarta. SMA Kiblik diganti menjadi SMA 1-A dan SMA 1-B, kemudian berubah nama menjadi SMA 1 ABC pada tahun 1962. Berubah nama menjadi SMA Negeri 1 pada tahun 1964 dan atas keputusan Pemerintah, belum lama ini SMAN 1 berubah nama menjadi SMU 1 Jakarta. Hal ini juga terjadi pada SMAN lainnya di Jakarta.

Fasilitas

 
Ruang kelas SMAN 1 Jakarta


 
Lapangan
  • Kelas ber-AC
  • Masjid
  • Ruang Kepala Sekolah
  • Ruang Wakil Kepala Sekolah
  • Ruang Guru
  • Ruang Tata Usaha
  • Ruang BP
  • Ruang Koperasi
  • Ruang Kurikulum
  • Perpustakaan
  • Laboratorium Biologi
  • Laboratorium Fisika
  • Laboratorium Kimia
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Bahasa
  • Ruang Audio-Visual
  • Auditorium
  • Sekretariat OSIS
  • Sekretariat Paskibra
  • Sekretariat PMR (UKS)
  • Sekretariat Palasi (Pecinta Alam)
  • Sekretariat Rohis
  • Sekretariat Drama (Dts)
  • Sekretariat One Graph (Fotografi)
  • Sekretariat Kir (Kelompok Ilmiah Remaja)
  • Wall Climbing
  • Lapangan Olah Raga (Basket/Futsal dan Volli)
  • Kantin
  • Koperasi
  • Toilet


Ekstrakurikuler

SRI 1/Rohis One (Seksi Rohani Islam)

Seksi Rohani Islam SMAN 1(SRI 1/Rohis One) Jakarta adalah salah satu organisasi keagamaan, yang aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti Idul Adha,Isra Mi'raj,Maulid Nabi,Do'a bersama,Zakat Fitrah,Bakti Sosial,Pesantren Kilat Kajian rutin Tahsin,Tafsir dan Imtaq kelas tiap hari Jumat. di dalam rohis juga ada kegiatan-kegiatan seperti Bimbingan Belajar Al-Quran,Marawis,Nasyid,Tetris(Teater Rohis),dan Robo Cup(Rohis Boedoet Cup).Rohis One juga aktif dalam kegiatan-kegiatan Eksternal antar Rohis sekolah lain seperti KAPMI,Iqro Club Cup,dll

SRKP (Seksi Rohani Kristen Protestan)

Seksi Rohani Katolik

SUANSA (Suara Anak Satu/Paduan Suara)

Paduan suara SMA Negeri 1 Jakarta ini lahir di Boedoet pada tanggal 13 Maret 1998. SUANSA merupakan organisasi yang berkecimpung dalam dunia SENI suara. SUANSA adalah salah satu pionir kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Jakarta. SUANSA juga merupakan ekstrakurikuler yang paling sering mengikuti tiap acara yang di adakan oleh Sekolah, acara sekolah maupun di luar sekolah.

DTS (Dapur Teater Satu)

Lahir di Boedoet pada tanggal 31 Maret 1986. DTS merupakan organisasi yang berkecimpung dalam dunia seni peran. Teater adalah kehidupan, tampil di pentas adalah kejayaan.

Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera)

Paskibra berdiri pada tanggal 22 September 1986. Adalah salah satu pionir kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Jakarta.

Rescue 2981 (PMR)

Palang Merah Remaja atau PMR, ekstrakurikuler yang berdiri pada 29 September 1981 adalah ekstrakurikuler yang paling sering mengikuti tiap acara yang di adakan oleh Sekolah dan acara sekolah sebagai tim kesehatan.Selain diajarkan tentang kepalang merahan, juga diajarkan tentang evakuasi korban dari berbagai medan;lumpur,tebing, dan sungai

One Graph (Fotografi)

One Graph atau biasa disebut OG adalah ekskul fotografi yang telah berdiri sejak tahun 1989 dengan Andrianto Gunawan sebagai Ketua Umum pertama,kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh One Graph diantaranya adalah Hunting Besar,Pameran dan Studio Foto tahunan. One Graph juga merupakan salah satu ekskul yang paling sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah sebagai tim Dokumentasi,dan One Graph juga kerap kali turut serta dan meraih prestasi dalam kejuaraan-kejuaraan Fotografi(Rally Photo) antar pelajar.

PALASI (Pecinta Alam SMA 1)

PALASI memiliki arti "Pencinta Alam Siswa SMA 1". Merupakan salah satu ekstrakuriler pionir di SMA 1 Jakarta. PALASI berdiri pada tanggal 20 Januari 1980. TNGP atau Taman Nasional Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Salak menjadi tempat yang paling sering dikunjungi untuk pelaksanaan Pendidikan Dasar (DIKSAR) atau sekedar mengisi liburan bagi anggota-anggotanya yang kini berjumlah sekitar 900 orang.

Basket

Ekstrakulikuler ini baru berdiri pada tahun 2005. Pada tahun 2011 Ekstrakulikuler ini menjadi juara kedua di turnamen yang diadakan oleh SMA Negeri 1 Jakarta yaitu STOVIA Cup 2012 .

Bulu Tangkis

Futsal / Sepakbola ( FC Boedoet )

Berdiri pada tanggal 27 April 2005. eskul ini memiliki banyak prestasi sampai saat ini dan telah menyelenggarakan kejuaraan Futsal antar pelajar dengan nama Boedoet Cup

Science Club 1 (KIR)

Merupakan ekskul tertua kedua, yang berdiri sejak tanggal 21 Maret 1980. Hingga kini, tidak sedikit prestasi yang dicapai, terakhir kali mendapat peringkat tiga nasional di Kontes Inovator Muda oleh Nael Huda Qonita. KIR dari tahun ke tahun selalu melahirkan bakat-bakat muda di bidang karya tulis sehingga sering dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba-lomba penelitian dan panelis.

B'ONE Dancer (Dance)

TRADASA (Tari Tradisional Satu)

MASSA (Musisi Anak SMAN Satu)

Tae Kwon Do

Ekstrakulikuler ini baru berdiri pada tahun 2004, namun sampai sekarang telah banyak meraih prestasi yang cukup membanggakan. Tahun 2008 Ekstrakulikuler ini telah mengadakan invitasi antar SMA dengan cakupan seluruh DKI, dan memiliki kredibilitas yang baik dimata peserta, wasit dan lain lain.

Pesilat Satu (Pencak Silat SMAN 1 Jakarta)

Ekstrakulikuler ini telah berdiri pada tahun 80-an tetapi sempat vacum sekian lama dan didirikan kembali pada tahun 2006 oleh angkatan tahun 2007 dengan Firman Iskandar sebagai Ketua Umum pertama. Pesilat Satu menganut aliran Pencak Silat Tiga Berantai dan sudah resmi menjadi cabang dari perguruan tersebut.Pesilat Satu sering melakukan penampilan-penampilan Pada acara Penerimaan Siswa Baru SMAN1, HUT SMAN1, Hari Pendidikan Nasional, O2SN, Kejuaraan-kejuaraan antar pelajar dll.

Judo

eskul judo berdiri pada tahun 2004 dan masih ada kerjasama dengan club judo trisakti. prestasi yang dimiliki dari tahun ke tahun terakhir kali prestasi di tahun 2009 seorang siswa SMAN 1 bernama ananda mendapat juara 2 dan melanjutkan pertandingan ke jepang

Karate

Ekskul ini memiliki prestasi yang sangat membanggakan yaitu juara 1 Karate International di Belanda atas nama Angger Sanyoto (2008)

Komunitas SMA Negeri 1 Jakarta

Logo ikaboedoet.jpg
Sejak resmi berdiri sekitar tahun 1950an, SMAN 1 Jakarta telah melahirkan ratusan ribu alumni yang tersebar diberbagai penjuru dunia. Komunitas SMA Negeri 1 Jakarta adalah suatu bentuk ikatan bernama IKABOEDOET yang secara informal menyatukan keluarga besar SMAN 1 Jakarta.

Alumni Ternama dari Boedoet



Read Users' Comments ( 0 )

Sejarah Budi Utomo

Budi Utomo (ejaan Soewandi: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan
mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.
Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Budi Utomo

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua" yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.
Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

  Perkembangan

Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air api udara" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman.
Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo


Read Users' Comments ( 0 )

Sejarah Perkembangan Sistem Operasi

Sistem operasi merupakan sebuah penghubung antara pengguna dari komputer dengan perangkat keras komputer. Sebelum ada sistem operasi, orang hanya mengunakan komputer dengan menggunakan sinyal analog dan sinyal digital (silahkan cari sendiri apa itu sinyal analog dan sinyal digital). Seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi, pada saat ini terdapat berbagai sistem operasi dengan keunggulan masing-masing.


Read Users' Comments ( 0 )